Menyambut hari raya nyepi di kampung bali

Jalan utama kampung Bali. (doc desa/fhoto FR)

morisjaya.desa.id – (16 Maret 2018). Kampung, adalah sebutan lain dari desa. Kampung Moris Jaya adalah kampung yang cukup luas, dengan luas wilayah mencapai 1.964 Ha. Maka untuk menunjang kelancaran administrasi dan pelayanan kepada masyarakatnya, kampung moris jaya dibagi menjadai  tujuh suku atau dusun. Suku atau dusun di ketuai oleh seorang kepala suku atau ketua RW, yang di bawahi langsung oleh kepala kampung atau kepala desa.

Satu dari tujuh dusun yang ada di kampung Moris Jaya terletak cukup terpisah dari dusun yang lain. Dusun tersebut berada diantara dua peladangan yang cukup luas, yaitu peladangan kampung tetangga Tri Tunggal Jaya dan peladangan milik warga kampung Moris Jaya. Dusun tersebut adalah dusun V ( lima ) kampung Moris Jaya. Sebuah dusun yang dihuni kurang lebih sekitar 125 kepala keluarga. Dusun V ( lima ) sebagian besar warganya berasal dari suku Bali, dengan jumlah prosentasenya mencapai sekitar 95% dari jumlah warga keseluruhan. Dengan jumlah mayoritas warganya yang besaral dari suku Bali, maka dusun V ( lima ) kental dilidah warga sekitar dengan  sebutan kampung Bali.

Jalan utama kampung Bali. (doc desa/fhoto FR)

Warga suku Bali yang berada di kampung Bali memeluk ajaran  Agama Hindu. Warga kampung Bali  yang beragama Hindu, saat ini mulai disibukan dengan serentetan acara keagamaan. Acara tersebut dalam rangka menyambut datangnya hari raya Nyepi tahun baru Saka 1940. Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka dimulai dengan menyepi. Pada hari Raya Nyepi suasana seperti mati, tidak ada kesibukan aktivitas seperti biasa.

Pemangku Adat Bpk. I Made Kantun. (dok desa/fhoto FR)

Pada hari Raya Nyepi umat Hindu melaksanakan “Catur Brata” Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Serta bagi yang mampu juga melaksanakan tapa, brata, yoga, dan semadhi. Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia) dan Bhuana Agung (alam semesta).

Jalan utama dusun V ( lima )/kampung Bali, merupakan jalan alternativ akses menuju daerah perkotaan. Jalan ini menjadi akses pilihan menuju perkotaan bagi warga dusun dan desa sekitar, bahkan warga kecamatan tetangga. Jalan utama menuju daerah perkotaan selain sedikit memutar, juga dalam kondisi rusak parah. Pada setiap datang nya hari Raya Nyepi, jalan yang melintasi kampung Bali ditutup sementara. Semua itu dilakukan demi menjaga toleransi antar umat beragama dan menjaga kekhusuka’an dalam beribadah Nyepi, bagi umat Hindu.

Banner himbauan untuk tidak melintas di jalan kampung Bali pada hari Raya Nyepi. (dok desa/fhoto FR)

Maka dihimbau kepada masyarakat yang akan bepergian, pada hari Sabtu tanggal 17 maret tahun 2018, untuk tidak melintasi jalan kampung Bali. Banner himabauan, juga sudah dipasang jauh hari oleh pengurus adat di jalan masuk menuju kampung Bali.  Diharapkan masyarakat yang akan bepergian menggunakan akses jalan yang lain, sperti yang di tuturkan oleh Pemangku Adat kampung Bali bapak I Made Kantun, “Saya mohon maaf apabila pada saat hari raya Nyepi, jalan yang melintasi kampung Bali kami tutup, dan akan dibuka lagi setelah uasi dalam pelaksanaan Ibadah Nyepi”, tuturnya. (FR/MJ)

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan